Bisnis komponen masih bisa terpacu di semester II

46

Sakura filter untuk mobil, produksi PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) saat Indonesia International Motor Show (IIMS) 2014 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jumat (19/9). KONTAN/Daniel Prabowo

Tren kenaikan penjualan mobil dan motor mulai dirasakan oleh pemain industri komponen. Oleh karena itu, pelaku industri komponen berharap semester kedua bisa mencapai target.

Lidiana Widjojo, Sekretaris Perusahaan PT Selamat Sempurna Tbk mengatakan, tren penjualan semester II-2017 mulai terdongkrak. Baik domestik maupun ekspor. “Penjualan kami optimis naik 10%,” kata Lidiana saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (22/8).

Meski demikian perseroan belum ada rencana diversifikasi produk dan tetap mengandalkan bisnis penjualan filter dan radiator. Asal tahu penjualan emiten berkode dagang SMSM masih didominasi oleh pasar ekspor yakni 70% dan sisanya domestik.

Untuk harga jual belum ada rencana kenaikan. Meski diakui ada kenaikan harga bahan baku besi (steel) di level global. “Untuk kenaikan harga kami harus bijak menentukannya,” kata Lidiana.

Uthan A. Sadikin, Direktur Pemasaran PT Multistrada Arah Sarana Tbkmengatakan ada mulai kenaikan penjualan. Secara umum menurutnya penjualan domestik meningkat dari merk Achilles dan Corsa. “Ekspor sedikit meningkat khususnya di Amerika Serikat dan Korea Selatan,” kata Uthan saat dihubungi KONTAN, Jumat (22/9)

Untuk penetrasi pasar ekspor, emiten berkode saham MASA akan terus dijajaki khususnya the Amerika Serikat, Asia Pacific dan Australia. Mulai Juli ini, MASA sudah berhasil tembus pasar Korea Selatan dan kedepan negeri Ginseng tersebut akan menjadi salah satu target utama di Asia selain Jepang dan ASEAN.

Sedangkan di dalam negeri MASA punya strategi lewat kerjasama dengan toko-toko ritel. Kerjasamanya lewat dua distributor besar seperti Planet Ban dan Proban.

Oleh karena itu, di semester kedua, emiten berkode dagang MASA ini akan menaikan harga jual sebesar 5%. Hal ini untuk bisa mendorong target penjualan. Target penjualan emiten berkode dagang MASA ini ditargetkan minimum bisa sama dengan tahun lalu yakni US$ 229,8 juta.

Dalam laporan keuangan semester I-2017 pendapatan MASA sebesar US$ 128 juta atau naik ketimbang periode sama tahun lalu sebesar US$ 123 juta. Namun kerugian bersih menjadi US$ 2,3 juta atau naik ketimbang tahun lalu sebesar US$ 1 juta.

Akan tetapi, PT Santi Yoga, distributor utama aki Yuasa belum merasakan ada tren kenaikan penjualan. Menurut Agustono Santoso, Automotive Battery Dept Head PT Santi Yoga mengakui dalam semester II-2017 akan stagnan seperti semester I-2017 ini. “Tapi kami masih optimis dengan target bisa tercapai,” kata Agustono kepada KONTAN, Jumat (22/9).

Menurutnya penjualan aki Yuasa untuk mobil bisa mencapai 1 juta unit per tahun. Sedangkan untuk sepeda motor mencapai 4,5 juta unit per tahun. Dengan jumlah tersebut market share aki Yuasa untuk roda dua sekarang mencapai 30%-35% sedangkan untuk mobil mencapai 20%-25%. Ditargetkan dalam jangka kedepan bisa mencapai 50%.

Sedangkan untuk harga jual, menurutnya konsumen aki sangat sensitif terhadap harga. Namun awal tahun ini perusahaan terpaksa harus menaikan harga aki sebesar 5%-10% untuk segala tipe jenis aki karena harga bahan baku timah yang naik. Asal tahu tahun lalu, Yuasa mengklaim belum menaikan harga.

Selain itu untuk ke pasar digital, perusahaan sudah menjual aki baterei lewat kerjasama dengan e-commerce seperti, Blibli, Tokopedia dan Bukalapak

SHARE