Beragam Versi Aktivitas Bawah Tanah DN Aidit di Tahun 1945

5294

Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit disebut punya banyak peran di tahun 1945. Namun cerita keikutsertaan Aidit dalam berbagai aktivitas menjelang Kemerdekaan itu tak masuk rekaman sejarah. Misalnya soal perang antara kaum muda dan kaum tua menjelang tua menjelang Proklamasi, termasuk ikut dalam rombongan pemuda menculik Soekarno-Hatta.

Cerita keikutsertaan Aidit ke rumah Soekarno dituturkan Sidik Kertapati dalam buku Sekitar Proklamasi 1945. Dalam tulisannya, Sidik menyebut Aidit ikut rombongan pemuda menculik Soekarno-Hatta. Kitab Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia terbitan Balai Pustaka oleh Panitia Penjusun Biro Pemuda Departemen P&K mencatat hal yang sama.

Namun Kepada Z. Yasni – tertuang dalam buku Bung Hatta Menjawab-Hatta menyebut Aidit tak ada di rumah Bung Karno malam itu. Dia cuma mengingat Wikana dan Soekarni. Sedangkan dalam buku Menteng 31 Membangun Jembatan Dua Angkatan, A.M. Hanafi mengatakan bahwa Aidit terlibat karena mengantarkan Wikana.

Sebagaimana catatan Hatta, Sidik Kertapati dan juga oleh Soekarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat- peristiwa itu terjadi pukul 11.30 malam. Para pemuda itu, disebut Sidik sebagai aktivis pemuda antifasis dari Asrama Menteng 31. Mereka mendesak Soekarno agar memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi Bung Karno menolak. Mohammad Hatta yang datang belakangan pun tak setuju dengan ide mereka.

Malam itu, Rabu 15 Agustus 1945, mereka seperti ditulis Sidik Kertapati sebagai pemuda antifasis dari Asrama Menteng 31, bergegas ke luar rumah di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Mula-mula Chaerul Saleh dan Wikana. Lalu D.N. Aidit, Djohar Noer, Pardjono, Aboebakar, Soedewo, Armansjah, Soebadio Sastrosatomo, Soeroto, dan Joesoef Koento.

Soekarno menyebut terjadi pertengkaran hebat antara pemuda dan Bung Karno malam itu. Malam itu, dikenang hingga kini karena berjasa mempercepat proklamasi Indonesia.

Setelah Bung Karno menolak, Kamis dini hari itu, para pemuda yang dipimpin oleh Soekarni nekat menjalankan rencana B, yakni menculik dan membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, Karawang.

Murad Aidit, adik DN Aidit dalam wawancaranya untuk Edisi Khusus Tempo soal Aidit terbit 1 Oktober 2007 mengaku melihat kakaknya mengikuti rapat rahasia di bawah pohon jarak. Tepatnya di belakang kebun bekas Institut Bakteriologi Ejkman di Pengsaan, empat jam sebelumnya. Aidit datang bersepeda, membonceng Wikana. Hanya Murad tak ingat pasti, apakah Aidit ikut membawa Soekarno ke Rengasdengklok. Seingat saya, mereka pulang marah-marah, kata Murad Aidit.

Aidit memang aktif dalam kelompok pemuda antifasis yang bergerilya di Jakarta pada masa pendudukan Jepang hingga kembalinya Belanda. Soekarno dan Hatta bahkan mengenalnya dengan baik sejak periode awal Angkatan Baru Indonesia di Asrama Menteng 31.

Menteng 31 dulunya hotel bernama Schomper I. Setelah Belanda pergi pada 1942 tempat itu menjadi salah satu basis perlawanan anak muda. Di tempat yang kini berubah nama menjadi Gedung Joang 45 itu, Aidit dan teman-teman mendapat gemblengan dari bapak bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Amir Syarifudin, Ahmad Soebardjo, dan Ki Hajar Dewantara.




Setelah proklamasi, awal September, aktivis Menteng 31 membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API). Wikana terpilih menjadi ketua, sekretarisnya H.M. Hanafi. Bang Amat (D.N. Aidit) menjadi Ketua API Jakarta Raya, ujar Murad, yang terdaftar sebagai anggota API dengan nomor 13.

API segera menjadi momok bagi Jepang, lalu Sekutu yang datang kemudian. Di bidang keorganisasian mereka membentuk Barisan Rakyat yang mengorganisasi pada petani. Sidik Kertapati mencatat aktivitas Aidit sewaktu di lapangan Ikada sekarang Monas pada 19 September 1945. Ketika itu API bersama barisan buruh dan tani memprakarsai sebuah rapat raksasa untuk menunjukkan dukungan rakyat kepada para pimpinan negara. Tapi, hingga waktu yang direncanakan, Bung Karno tak juga muncul.

Massa yang datang sejak pagi mulai marah. Tiba-tiba, di bawah todongan moncong senapan tentara Jepang yang mengelilingi Ikada, Aidit bersama Suryo Sumanto naik podium. Mereka mengajak massa menyanyikan lagu perjuangan, antara lain Darah Rakyat, Padamu Negeri, dan Maju Tak Gentar. Massa pun tenang kembali hingga Bung Karno tiba.

Rapat di lapangan Ikada membuat tentara Jepang naik darah. Mereka merazia Asrama Menteng 31. Para pemimpin API, termasuk Aidit, M.H. Loekman, Sidik Kertapati, dan A.M. Hanafi, mereka bawa ke penjara Jatinegara. Aidit dan teman-teman berhasil menyogok penjaga penjara dan kabur. Dan sejak itu aktivitas Menteng 31 berhenti.

Puncak dari aktivitas bawah tanah Aidit pada periode sekitar kemerdekaan adalah pada 5 November 1945. Ketika itu Aidit bersama Alizar Thaib memimpin sekelompok pemuda menyerbu pos pertahanan Koninklijke Nederlands Indische Lege atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Namun mereka sial, kepergok tentara Inggris yang berpatroli dengan lima truk. Sekitar 30 aktivis tertangkap, termasuk Aidit. Tentara Inggris menyerahkan mereka ke Belanda, yang lalu membuang mereka ke Pulau Onrust, di gugusan Kepulauan Seribu, utara Jakarta.

DN Aidit bebas tujuh bulan kemudian, setelah kesepakatan Hoge Voluwe di Belanda pada 24 April 1946. Ketika itu ibu kota negara sudah pindah ke Yogyakarta. Cuma sehari di Jakarta, dia lalu menyusul teman-temannya ke Yogya, menumpang kereta dari Karawang.

Sumber : WDA | PUSAT DATA ANALISA TEMPO

SHARE