Begini Penggunaan E-Money di Jepang dan Australia

84
E-Money di Jepang. (travel.navitime.com)

Jakarta – Uang elektronik, yang tengah menjadi perbincangan beberapa waktu terakhir, sebenarnya sudah lumrah digunakan di luar negeri. Selain untuk transportasi, e-money bahkan telah menggeser uang tunai dalam transaksi harian seperti berbelanja di beberapa negara.

Alvin Yesaya, mahasiswa Universitas Tokyo, berujar kartu e-money telah menjadi barang yang pasti dimiliki penduduk Jepang. Sebab, kartu itu bisa dipakai untuk berbagai keperluan misalnya membayar biaya transportasi, makan di restauran, berbelanja di mesin penjual otomatis, hingga berbelanja waralaba. “Wajib punya,” kata dia kepada Tempo, Kamis, 21 September 2017.

Untuk mendapatkan kartu itu, kata dia, konsumen bisa membelinya di mesin penjual otomatis yang tersedia di beberapa titik, misalnya stasiun. Calon pengguna mesti mendepositkan dana sebesar 500 yen atau sekitar Rp 59 ribu, yang bisa diambil kembali ketika kartu itu dikembalikan ke mesin.

Untuk melakukan isi ulang, dapat dilakukan di mesin-mesin yang terletak di stasiun maupun waralaba menggunakan uang tunai maupun kartu ATM, tanpa dikenakan biaya. Menurut Alvin, penggunaan uang elektronik itu, selain mudah, juga memberikan keuntungan, misalnya adanya potongan harga transaksi. “Kalau belanja di waralaba juga bisa mendapatkan poin yang bisa ditukarkan apabila sudah banyak,” ujarnya.

Di Australia, pembayaran-pembayaran juga telah didominasi oleh non-tunai. Bedanya, kartu yang lumrah digunakan adalah kartu debit mastercard. Untuk menggunakannya, masyarakat tinggal menempelkan kartu (tap) saja di toko-toko. “Hampir semua toko ada yang namanya eftpos (alat pembayaran di Australia),” ujar mahasiswa Universitas Melbourne, Pranidhana Mahardhika.

Pengguna kartu itu tidak perlu melakukan isi ulang. Sebab, secara otomatis setiap transaksi akan memotong dana yang ada di tabungan. Meski demikian, kartu debit itu tidak bisa digunakan untuk membayar transportasi.

Sebab, ada kartu khusus lagi untuk membayar transportasi, misalnya kartu Electronic Road Pricing (ERP). Kartu seharga Aus$ 6 atau sekita Rp 63 ribu, itu bisa diisi ulang melalui online atau di beberapa titik seperti halte bus maupun toko waralaba dengan nilai minimum Aus$ 1. Dhika berujar isi ulang itu tidak dikenakan biaya.

Hampir sama dengan di Australia, Inggris pun menerapkan sistem pembayaran menggunakan kartu debit maupun visa. Sementara untuk transportasi, konsumen perlu membeli kartu khusus untuk semua transportasi di sana. “Juga deposit dana sekitar 5 atau 10 pounds (Rp 89 ribu- 179 ribu),” kata Aufar Ridwansyah, warga Indonesia yang sempat menetap di Sheffield, Inggris.

Namun, menurut dia, ada perbedaan dengan penggunaan e-money di Indonesia, pengguna dapat memilih membayar biaya transportasi secara berlangganan per periodik. “Ada paket pelajar juga yang lebih murah,”

 

TEMPO

SHARE